MUSIK WELA- WELA : METODE MERAWAT BUDAYA PERTANIAN SUKU SAHU
Main Article Content
Abstract
Musik Wela-wela adalah adalah musik tradisional Suku Sahu yang digunakan pada saat menanam Padi di ladang. Musik Wela-wela dianggap salah satu alat musik yang menyimpan sakralitas tinggi dengan kekayaan nilai tradisi. Musik Wela-wela dipertunjukan dalam acara ritual tertentu yaitu disaat menanam padi. Sudah menjadi sebuah keyakinan masyarakat, jika menanam tidak diikuti musik Wela-wela maka, pasti akan mengalami gagal panen.. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, penelitian ini menghimpun data melalui observasi, wawancara, dan studi literatur untuk menggali makna simbolik dan peranan musik Wela-Wela dalam berbagai kegiatan adat dan sosial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik Wela-Wela tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki peran penting dalam ritual adat, penyambutan tamu, upacara panen, serta kegiatan kebersamaan komunitas. Irama dan pola permainan yang khas mencerminkan identitas budaya masyarakat Halmahera Barat serta menjadi media pelestarian nilai-nilai tradisi leluhur. Selain itu, musik Wale-Wale berperan dalam memperkuat kohesi sosial dan solidaritas antaranggota komunitas.
Kesimpulannya, musik Wela-Wela merupakan warisan budaya yang memiliki nilai historis, estetis, dan sosial yang tinggi. Pelestarian terhadap tradisi ini sangat penting untuk mempertahankan identitas kultural masyarakat Halmahera Barat di tengah perkembangan zaman dan arus modernisasi.
Article Details
Section

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
References
Any, Nanda Ravela Lie, Peran Lembaga Adat dalam Pelestarian Kearifan Lokal (Orom sasadu/Makan Adat) Suku Sahu di Desa Balisoan Kecamatan Sahu Kabupaten Halmahera Barat (Skripsi), Salatiga: Program Susi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi, Universitas Kristen Satya Wacana. 2017.
Apomfires Frans, Makanan Pada Komunitas Adat Jae: Catatan Sepintas-Lalu Dalam Penelitian Gizi, Antropologi Papua, Volume 1 Nomor 2, hal. 1-9. 2002.
Arman Ayu, Festival Teluk Jailolo: Celebrating the People, Culture and Nature of West Halmahera, Jailolo: Nala Publishing House. 2015.
Bagong. 1992. Dari Klasik hingga Kontemporer. Yogyakarta: Padepokan Press.
B. Soelarto, Sekitar Tradisi Ternate. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan RI, 1982.
Chalik, Husein A, et.al. Pakaian adat Tradisional Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara. Kendari Bagian Proyek Penelitian Pengkajian dan Pembinaan Nilai- Nilai Budaya Sulawesi Tenggara. 1992/1993.
Christiaan Frans van Fraasen, Ternate, “De Molukken en De Indonesische Archipel, Van Soa Organisatie en Vierdeling: Een Studie van Traditionele Samenleving en Cultuur en Indonesia”, Disertasi Universiteit Leiden, 1987.
F.S.A. de Clercq, ,Bijdragen tot de kennis der Residentie Ternate, 1890. Gelden, Heine, R. Konsep Tentang Negara & Kedudukan Raja di AsiaTenggara. Deliar Noer (Penerjemah). Jakarta: Rajawali. 1982.
Giddens, A. (1984). The Constitution of Society: Outline of The Theory of Structuration. Cambridge: Polity Press.
Hadi, Sumandiyo. Sosiologi Tari. Yogyakarta: Penerbit Pustaka. 2005.
Kayam, Umar. Seni, Tradisi, Masyarakat. Jakarta: Sinar Harapan Kussudiardja. 1981.
Leonard Y. Andaya, The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Modern Period. Honolulu: University of Hawaii Press, 1993.
L. E. Visser, (ed), Halmahera and Beyond, Social Science Research in The Moluccas. Leiden: KITLV Press, 1994.
Maleong, Lexy J. 2006. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Melamba, Basrin. Sejarah dan Ragam Hias Pakaian Adat Tolaki di Sulawesi Tenggara. Mozaik Jurnal Ilmu Humaniora Volume 12 No. Juli-Desember 92-204. 2012.
Masinambaw E.K.M. (ed.) Halmahera dan Raja Ampat Sebagai Kesatuan Majemuk. Suatu Studi Terhadap Suatu Daerah Transisi. Jakarta: LEKNAS-LIPI,1980.
Abbas, I., & Hasim, R. (2022). Pelaksanaan Tari Cakalele Di Desa Togawa Kecamatan Galela Selatan. GeoCivic Jurnal, 2.
Hasim, R. (2017). Dari Mitos Tujuh Putri hingga Legitimasi Agama: Sumber Kekuasaan Sultan Ternate. SASDAYA, Gadjah Mada Journal of Humanities, 1(2), 144–163. https://doi.org/https://doi.org/10.22146/sasdayajournal.27777.
Hasim, R. (2019). Dari Monopoli hingga Pelabuhan Bebas: Aktivitas Perdagangan di Ternate. Gadjah Mada Journal of Humanities, 3(2), 151–179.
Hasim, R., & Faruk, R. A. (2020). Mengkonstruksi nilai-nilai budaya lokal masyarakat ternate melalui pembelajaran muatan lokal. Jurnal Geocivic, 3(1).
Hasim, R., Hasim, D., & Amelia, R. (2023). Ternate Sultanate Palace: A Multifaceted Hub at the Crossroads of Culture and Politics. International Journal of Current Science Research and Review, 06(12), 7619–7626. https://doi.org/10.47191/ijcsrr/v6-i12-18
Sutrisno Kutoyo, Sejarah Daerah Maluku. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1977.
Siandari, Apriliasti,. Makna Simbol Pakaian Adat Pengantin Suku Sasak Lombok Nusa Tenggara Barat. Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta Program Studi Pendidikan Seni Rupa. 2013.
Soedarsono, Tari-tarian Indonesia 1. Jakarta: Proyek Pengembangan. 1996.
Yoesoef, Wiwik, dkk. Busana Adat Pada Masyarakat di Sulawesi Selatan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. 1990.
Willard A Hanna & Des Alwi, Ternate dan Tidore Masa Lalu Penuh Gejolak, Jakarta: Sinar Harapan, 1996.